Entri Populer

Mengenai Saya

saya mnyukai seseorang yang pmberani , tanggung jawab dan jujur , saya sangat membenci seorang pengecut !

Pengikut

Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Resensi Tirai hujan


UNTUK MEREKA YANG MERINDUKAN PERDAMAIAN
Judul               : Tirai Hujan
Penulis             : Anindita Siswanto Thayf
Penerbit           : Tiga Serangkai, 2006
Tebal               : x + 212 halaman
Harga              : Rp 31.680,00
Resensator       : Rahma Febrianti


Pernahkah kalian membayangkan hidup di tengah suasana peperangan ? Mendengar kata perang saja sudah merinding apalagi jika kita yang benar – benar mengalaminya. Kali ini Anindita seorang novelis muda telah berhasil menerbitkan novel keduanya yang berjudul Tirai Hujan. Kisah dalam novel ini berbeda dengan kisah novel remaja yang lain. Novel yang beredar di pasaran biasanya menceritakan kisah remaja yang hanya diisi candatawa,kesal saat dimarahi orang tua, dan mungkin seringkali menangis sedih saat patah hati atau dikhianati sahabat. Namun, novel karangan Anindita ini mengajak kita melihat sisi lain kehidupan seorang remaja yang tinggal di daerah perang.
Kisah dalam novel ini bukan kisah remaja biasa, tetapi juga bukan luar biasa. Ini adalah bagian kecil dari contoh kehidupan nyata yang mungkin hanya kau lihat lewat layar televisi dan sangat beruntung jika kau tidak mengalaminya. Tidak ada seorangpun yang menginginkan perang, kecuali orang gila yang merasa kalau perang bisa membuatnya lebih berkuasa atau terkenal. Selain itu tidak ada seorang pun yang ingin menjadi pengungsi dan dipaksa berpisah dari tanah kelahiran dan keluarganya hanya demi menyelamatkan nyawa yang cuma  satu – satunya.
Cerita yang diangkat dalam novel ini mengingatkan kita pada kejadian masa silam. Tepatnya pada tahun 1999 terjadi perang di Ambon. Entah tak tahu penyebab terjadi perang tersebut. Kemerdekaan Republik Indonesia yang diraih pada tahun 1945 rasanya sangat sia – sia. Pengorbanan dan perjuangan para pahlawan pudar dan lenyap begitu saja. Begitu mudahnya melupakan jasa para pahlawan merebut kemerdekaaan dari tangan penjajah. Meraih kemerdekaan tidak semudah membalik telapak tangan. Apakah kalian rela jika nyawa sebagai taruhannya di zaman modernisasi seperti ini ? Sungguh sangat tidak mungkin. Apalagi jika orang lain terkena imbasnya. Kita diciptakan di dunia ini untuk saling menjaga, tidak untuk menjatuhkan satu sama lain. 
Lain kepala lain juga isinya. Novel karangan Anindita ini berbeda dengan novel lain. Ia menceritakan tentang persahabatan antara dua sekawan yang berbeda keyakinan. Mereka tidak menjadikan perbedaan tersebut sebagai penghambat. Mereka bisa belajar antar satu sama lain. Layaknya remaja yang aktif, kreatif dan inovatif, kedua tokoh yang diceritakan oleh pengarang jauh dari kesenangan dan kebahagian. Hari – harinya dijalani dengan duka cita. Keseharian mereka dihabiskan untuk mencari tempat persembunyian. Pengarang juga menyampaikan pesan  kepada calon pembaca untuk selalu bersyukur. Apalagi sekarang ini teknologi sudah maju. Internet sudah tersebar sehingga kalian bisa mencari informasi yang diinginkan. Tetapi coba kalian melihat kebelakang sejenak. Ketika perang terjadi, dunia terasa gelap, matahari seolah ikut bersembunyi. Seluruh saluran listirk dipadamkan.
Derai air mata korban perang yang selalu berdoa dalam tangis dan menunggu dalam harap. Korban perang seolah bermimpi untuk mencapai perdamaian. Mimpi indah yang menjadi bunga tidur dalam kegelapan. Desas – desus akan redanya perang seakan membuka kembali tirai yang tertutup berkepanjangan. Namun, hal tersebut sangatlah mustahil. Bentrok masih terjadi, oksigen bercampur asap masih terhirup. Pengarang menambahkan perang tersebut terjadi bertepatan dengan Hari Raya. Tak bisa dibayangkan menyambut Hari Kemenangan bersamaan dengan kerusuhan. Gema takbir mengiringi isak tangis korban perang. Raut wajah yang muram menggambarkan kekecewaan korban perang.
***
Kisah diawali dari sebuah persahatan antara Ifa dan Soya. Mereka berdua memiliki latar belakang yang berbeda. Nur Ifada Tulehu yang lebih akrab disapa Ifa ialah seorang gadis belia berdarah Ambon. Seperti umumnya orang Tanah Manise, kulitnya memang hitam sejak kecil dan rambutnya juga keriting kecil – kecil dan mengembang, ditambah dengan sepasang mata bulat dan hidung yang besar. Sedangkan Soya adalah cewek hitam manis campuran Indonesia – Belanda dengan rambut ikal kecoklatan, hidung mancung, bibir mungil yang selalu merah dan rahang yang keras.
Persahabatan mereka bermula ketika pertama kali Ifa masuk Taman      Kanak – Kanak. Ifa dan Soya diibaratkan seperti surat dan amplop, karena di mana ada Ifa, di situ pasti ada Soya, demikian pula sebaliknya. Ifa dan Soya ditakdirkan untuk selalu bersama meskipun saat SMP mereka sempat terpisah, tetapi di SMA mereka dipertemukan kembali. Seperti yang kita tahu, jika dua orang perempuan berteman baik dan dekat ( apalagi sangat baik dan sangat dekat ) maka pertengkaran atau sekadar selisih pendapat tetap akan terjadi tidak bisa tidak dan tidak akan bisa dihindari. Nah, begitu juga dengan Ifa dan Soya. Mereka seringkali mengalami beda pendapat.
Konflik yang dialami oleh kedua tokoh tersebut masih bisa kita maklumi. Tetapi bagaimana jika konflik tersebut melibatkan dua kelompok yang berselisih. Seperti halnya yang terjadi di Ambon. Konflik tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan keyakinan. Korban perang pindah ke tempat pengungsian untuk sementara waktu sampai keadaan pulih kembali. Ifa dan Ibu beserta adiknya terpaksa pindah ketempat neneknya di Makassar berpisah dengan ayah dan sahabatnya.

***
Novel ini memberi gambaran tentang kehidupan peperangan. Kisah yang terdapat dalam novel ini ditulis dengan tujuan agar kita semua sadar kalau perang tidak hanya berarti kemenangan, tapi juga kehancuran. Kau tidak akan menjadi hebat dengan berperang karena itu sama saja dengan menjadikan dirimu sebagai mesin penghancur. Membunuh dan menindas. Dengan alasan apa pun, tidak akan lebih baik daripada seorang manusia tanpa hati. Ya, benar. Karena jika kau punya hati, kuyakin kalau damai akan selalu menjadi pilihanmu daripada perang.
Novel ini juga terdapat kutipan lagu “ Perdamaian “ yang dinyanyikan kembali oleh Gigi. Lagu ini menyampaikan pesan moral yang memiliki makna mendalam. Kebanyakan orang menginginkan perdamaian untuk mengiringi           hari – harinya yang cerah. Namun bentrok masih terjadi. Sangat jauh dengan yang diharapkan.
 Bahasa yang digunakan baku sehingga memudahkan calon pembaca untuk memahami setiap kalimat. Novel Tirai Hujan ini juga memuat beberapa bait puisi yang menggambarkan kesedihan dan kekecewaan korban perang.
Di lihat dari isinya, novel yang berisikan kehidupan nyata ini bermanfaat untuk dibaca  oleh usia anak, remaja hingga dewasa. Informasi yang terdapat dalam novel ini mengajak kita untuk mengingat kembali perang yang terjadi di Tanah Air. Selain dijajah oleh bangsa luar, ternyata Indonesia juga pernah dijajah oleh bangsa sendiri.
Banyak kelebihan yang ditonjolkan dari novel ini. Namun novel ini juga masih terselip beberapa kekurangan diantaranya yaitu ceritanya tidak mencapai klimaks. Ending novel ini tidak menjelaskan penyelesaian masalah secara mendetail. Kemudian dari segi penampilan novel ini kurang menarik karena perpaduan warnanya tidak terang sehingga tampak kusam.





                     

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar